01 Maret 2010

Resensi Bahasa Indonesia

Diva meletakkan Koran pagi diatas meja makan dengan senyum penuh kemenangan. Headline koran itu jelas terbaca: Guru paksa aborsi, murid tewas mengenaskan ditoilet…

Kejadian kasus kematian yang misterius itu sebenarnya telah terjadi lima tahun silam di sebuah SMU Negeri Jakarta Selatan, tetapi baru sekarang kasusnya terbongkar.

Siapa yang membongkarnya???

Bukan polisi bukan pula penegak hokum, melainkan arwah Adelian sendiri, sang murid yang dipaksa aborsi oleh guru Bahasa Indonesia yang menghamilinya, namun tidak mau bertanggung jawab.

Novel ini mengisahkan tentang Diva Desmiani siswi SMU Bandung yang terpaksa pindah ke Jakarta dikarenakan sang papa di pindahkan tugasnya ke Jakarta tepatnya di Kemang, Jakarta Selatan. Awalnya Diva tidak rela melepaskan kedua sahabatnya Erly dan Tania. Dan Rio sang pacar yang secara resmi 3 bulan jadian. Namun, setelah dia tidak mempunyai pilihan. Akhirnya pun setuju dengan kepindahannya ke Jakarta.

Diva pindah ke sebuah SMU Negeri Jakarta Selatan. Awalnya Diva bertemu dengan seorang siswi yang dianggapnya sombong karena tidak mau memberitahukan namanya. Pada hari pertama masuk sekolah Diva berteman dengan Okka -teman semejanya-. Tetapi Diva juga mempunyai teman yaitu Adelia. Teman yang dikenalnya pada saat di toilet yang akhirnya emmberitahukan namanya. Diva tidak mengetahui bahwa toilet yang terkenal dengan “toilet 105” itu angker.

Sejak pertemuannya dengan Adelia, banyak yang janggal, Diva ketika bersama dengan Adelia, yang secara kasat mata banyak yang melihat seolah Diva sedang berbicara sendiri. Di sisi lain Diva pun pernah memimpikan aneh mengenai Adelia sebanyak 2 kali berturut-turut yang dikiranya aneh. Tapi setelah dia bercerita dengan Ahmad –kakak laki-laki Diva- beserta dengan kedua temannya bahkan dengan Rio juga. Akhirnya Diva pun berusaha tak mengacuhkan mimpinya itu..

Kondisi menegangkan itu akhirnya membuat Diva sadar bahwa ia membawa sesuatu yang membangkitkan kemarahan setan toilet. Adelia yang ternyata sudah meninggal “hidup kembali”, dan memaksa Diva untuk membantu membongkar kejahatan keji yang telah membuat arwahnya tidak tenang di alam baka.

Diva jelas menolak, melawan dan memberontak, sampai dia harus meminta cenayang dari Bandung. Karena bagi Diva, jangankan di suruh bekerjasama dengan hantu, melihat hantu aja seumur-umur belum pernah.

Namun isak tangis, permohonan yang mengiba, serta air mata kejujuran yang menetes dari mata Adelia “sang arwah penasaran” yang lelah mencari bantuan, akhirnya membuar Diva bergerak hatinya serta tumbuh keberanian membongkar kasus ini.

Novel ini menggunakan bahasa yang luwes karena penggabungan Bahasa Daerah(Sunda) dengan Bahasa Indonesia serta adanya Bahasa yang biasa digunakan oleh anak muda sekarang sehingga pembaca mudah menyerap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar